Misteri Alam

Misteri Alam, Mengapa Malam Itu Gelap

Mengapa malam itu gelap ? Pertanyaan sederhana namun mempunyai jawaban yang banyak. Sebenarnya cukup jelas mengapa gelap di malam hari, malam merupakan bayangan matahari yang menerangi bumi dari satu sisi. Dan karena perputaran bumi terjadi perubahan dari siang ke malam.

Malam gelap bukan hanya karena tidak ada matahari, meskipun matahari tidak ada, bukankah masih ada bintang-bintang lain ? Menurut Astronom memperkirakan, jumlah bintang di alam semesta mencapai lebih dari 200 miliar. Jika semua bersinar, bukankah setidaknya bermandikan cahaya layaknya suasana pesta kembang api ?

Pertanyaan mengapa malam gelap sudah diajukan sejak masa astrofisikawan Heinrich Wilhelm Olbers yang hidup antara tahun 1758 hingga 1840. Pemikirannya dikenal dengan “Olbers Paradox”. Dahulu, astronom berpikir bahwa alam semesta itu statis dan tidak berbatas. Debu-debu antariksa akan menyerap energi dari bintang sehingga seharusnya membuat langit malam terang. Tetapi, nyatanya tidak.

Untuk mempermudah pemahaman, kita bayangkan bintang dengan kecerahan yang sama terdistribusi secara merata dilapisan terkonsentrasi sekitar bumi, seperti lapisan bawang umpamanya.

Dengan kondisi ini seharusnya cahaya akan mencapai bumi dengan jumlah yang sama dari setiap lapisan, karena walaupun jumlah cahaya yang mencapai bumi dari setiap bintang menurun sesuai jarak (1/d^2, d= R, 2R,…), tapi jumlah bintang di setiap lapisan yang meningkat lebih banyak, secara efektif akan menyeimbangkan penurunan cahaya dari efek jarak dan langit menjadi seterang seperti dipermukaan bintang. Jadi berkurangnya intensitas cahaya efek jarak bukan penyebab utama kegelapan malam.

Hingga kemudian pada abad 20, astronom mengetahui bahwa alam semesta itu berbatas. Alam semesta memiliki awal, seperti kita semua. Jagat raya dimulai pada 13,8 miliar tahun lalu, saat terjadinya Big Bang. Dengan demikian, cahaya yang bisa dilihat manusia juga hanya yang berasal dari masa tersebut.

Astronom kemudian mengetahui fakta lain, yaitu bahwa alam semesta itu megembang. Jadi, cahaya yang ada di alam semesta mungkin berasal dari jarak yang lebih jauh dari 13,8 miliar tahun cahaya.

Jarak yang jauh berpadu dengan pengembangan alam semesta membuat gelombang cahaya bintang yang datang dari wilayah jauh di sana meregang, mendekati panjang gelombang cahaya merah. Alhasil, manusia tak bisa melihat semua cahaya yang mengarah ke bumi. Jadilah kita menyaksikan malam itu gelap. Hanya beberapa bintang yang jaraknya tergolong dekat dalam skala astronomi saja yang bisa dilihat dengan mata telanjang manusia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *